https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JAK/issue/feedJurnal Agrotek Kultura2025-12-27T01:22:15+00:00Open Journal SystemsJurnal Agrotek Kultura (JAK) is a journal of science in the field of agrotechnology which covers several fields of science such as Agronomy, Horticulture, Soil Science, and Plant Pests and Diseases. Jurnal Agrotek Kultura published since 2024 and published two times in one year ie in April and October. Jurnal Agrotek Kultura published by Department of Agrotechnology, Faculty of Agriculture, University of Lampung in cooperation with Agrotechnology Association of Indonesia (PAGI). This is an open access journal which means that all content is freely available without charge to the user or his/her institution. Users are allowed to read, download, copy, distribute, print, search, or link to the full texts of the articles, or use them for any other lawful purpose, without asking prior permission from the publisher or the author. This is in accordance with the BOAI definition of open access.https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JAK/article/view/12234PERTUMBUHAN SPATIFILUM (Spathiphyllum wallisii) AKIBAT PERBEDAAN DOSIS PUPUK NPK DAN PEMBERIAN BENZILADENIN (BA)2025-12-23T14:12:29+00:00Rugayah Rugayahrugayah.1961@fp.unila.ac.idLady MayrianiLady.Maryani@gmail.comLiska Mutiara Septianaliska.mutiara@fp.unila.ac.idAgus Karyantoagus.karyanto@fp.unila.ac.id<p>Spatifilum (<em>Spathiphyllum wallisii</em>) merupakan tanaman hias yang cukup populer dan sering digunakan sebagai dekorasi dalam ruangan. Penampilan spatifilum yang menarik dapatdilihat dari warna bunganya yang putih bersih. Tanaman spatifilum diketahui dapat membersihkan udara dalam ruangan dari polutan seperti benzena dan formaldehida yang berasal dari asap rokok dan material bangunan. Upaya untuk meningkatkan nilai keindahan pada tanaman spatifilum yaitu dengan pemberian benziladenin dengan kondisi tanaman yang tercukupi unsur haranya melalui pemberian pupuk NPK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk NPK dan pemberian benziladenin terhadap pertumbuhan spatifilum. Penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial (3x2) dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah dosis pupuk NPK (0 g NPK pot<sup>-1</sup>, 6 g NPK pot<sup>-1</sup>, 12 g NPK pot<sup>-1</sup>).Faktor kedua adalah pemberian Benziladenin (0 ppm BA dan 20 ppm BA) yang diaplikasikan sebanyak dua kali, pertama pada saat 3 minggu setelah aplikasi NPK dan kedua pada saat 3 minggu setelah aplikasi BA pertama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk NPK 12 g dapat mempercepat waktu muncul bunga, waktu mekar bunga, menghasilkan jumlah bunga lebih banyak, dan ketahanan bunga yang lebih lama dibandingkan dengan dosis 6 g dan tanpa pupuk. Pemberian benziladenin cenderung mempercepat waktu muncul bunga, waktu mekar bunga, menghasilkan jumlah bunga lebih banyak, dan ketahanan bunga yang lebih lama dibandingkan tanpa pemberian benziladenin.Interaksipemberian NPK dan benziladenin yang paling baik dapat dilihat pada penambahan tinggi tanaman, penambahan jumlah daun, dan jumlahan akan.</p>2025-10-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agrotek Kulturahttps://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JAK/article/view/12235PENGARUH PEMBERIAN AMPAS ECOENZIM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PAKCOY (Brassica rapa L.) MENGGUNAKAN SISTEM IRIGASI OTOMATIS BERBASIS ARDUINO UNO2025-12-23T14:50:07+00:00Adam Chairul Anamaanam@gmail.comPurba Sanjayap.sanjaya@fp.unila.ac.idDermiyati Dermiyatidermiyati.1963@fp.unila.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian ampas ecoenzim terhadap pertumbuhan dan kualitas tanaman pakcoy (<em>Brassica rapa L</em>.) dengan menggunakan sistem irigasi otomatis berbasis Arduino Uno. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Lapangan Terpadu, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, dari tanggal 16 April hingga 16 Juni 2024. Metodologi yang diterapkan yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat taraf dosis ampas ecoenzim (kontrol, 10 ton.ha⁻¹, 20 ton.ha⁻¹, dan 30 ton.ha⁻¹) serta empat kali ulangan. Temuan penelitian mengungkap bahwa perlakuan dengan ampas ecoenzim memberikan respons yang bervariasi terhadap pertumbuhan pakcoy. Perlakuan kontrol tanpa ampas ecoenzim menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang lebih baik dibandingkan perlakuan dengan ampas ecoenzim. Penambahan ampas ecoenzim dengan dosis 30 ton.ha<sup>-1</sup> mampu mempertahankan kadar air tanah lebih baik dibandingkan media tanam tanpa ecoenzim. Penelitian ini mengindikasikan bahwa penggunaan ampas ecoenzim dapat menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi penggunaan air dalam budidaya pakcoy, serta merangsang penelitian lebih lanjut terkait optimalisasi penggunaan bahan organik dalam pertanian berkelanjutan.</p>2025-12-24T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agrotek Kulturahttps://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JAK/article/view/12240EFEK ALELOPATI EKSTRAK KLON UBI JALAR (Ipomoea batatas L.) SEBAGAI HERBISIDA NABATI TERHADAP PERKECAMBAHAN DAN PERTUMBUHAN GULMA Asystasia gangetica2025-12-24T22:09:27+00:00Purba Sanjayaixoras21@gmail.comMita Ardianamitaardiana234@gmail.comSri Yusnainisri.yusnaini@fp.unila.ac.idHidayat Pujisiswantohidayat.pujisiswanto@fp.unila.ac.idRatna DewiRatna.dewi@gmail.com<p>Tanaman ubi jalar (<em>Ipomoea batatas</em>) diketahui mengandung senyawa alelokimia sehingga berpotensi menghambat pertumbuhan gulma. <em>Asystasia gangetica</em> merupakan jenis gulma daun lebar yang bersifat invasif dan cepat menyebar di berbagai jenis lingkungan, sehingga perlu dilakukan pengendalian yang tepat. Salah satu pendekatan alternatif yang ramah lingkungan adalah penggunaan herbisida alami berbahan dasar tumbuhan yang mengandung senyawa alelokimia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak klon ubi jalar dari tiga klon yang berbeda (LPG-01, LPG-22, dan Antin 2) dan menentukan konsentrasi yang paling berpengaruh dalam menekan perkecambahan serta pertumbuhan <em>A. gangetica</em>. Pelaksanaan penelitian berlangsung dari bulan Januari sampai Juni 2025 di Laboratorium Ilmu Gulma dan rumah kaca Laboratorium Lapang Terpadu, Universitas Lampung. Uji perkecambahan dilakukan menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL), dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama klon ubi jalar meliputi LPG-01, LPG-22, dan Antin 2, sedangkan faktor kedua konsentrasi ekstrak meliputi 0%, 7,5%, 15%, dan 22,5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak klon ubi jalar mampu menurunkan vigor dan laju perkecambahan gulma. Konsentrasi berkisar antara 7,5% hingga 22,5% memberikan hasil yang efektif dalam menghambat perkecambahan dan pertumbuhan <em>A. gangetica</em>.</p>2025-10-24T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agrotek Kulturahttps://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JAK/article/view/12241PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SEMANGKA (Citrullus lanatus) AKIBAT PERBEDAAN DOSIS PUPUK NPK DAN PUPUK PELENGKAP ALKALIS2025-12-25T08:27:44+00:00Annisya Hersa Yustikariniannisya.hersa@gmail.comKus Hendartokus.hendarto@fp.unila.ac.idSepti Nurul Ainisepti.aini@fp.unila.ac.idYohannes C. Gintingyohannes.ginting@fp.unila.ac.id<p>Produksi semangka di Provinsi Lampung pada tahun 2020 yaitu 25, 007 ton per tahun, sedangkan permintaan di pasar global mencapai 1.506.000 ton per tahun. Penyebab rendahnya produktivitas semangka dipengaruhi oleh teknik budidaya yang belum optimal, selain itu juga disebabkan oleh jenis tanah di Lampung yang umumnya merupakan tanah Ultisol yang miskin unsur hara dan bersifat asam. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemupukan pada tanaman semangka untuk menambahkan unsur hara makro dan mikro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis pupuk NPK yang paling baik, mengetahui pengaruh pemberian pupuk pelengkap alkalis, serta untuk mengetahui interaksi antara pemberian dosis pupuk NPK dan pupuk pelengkap alkalis terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman semangka. Penelitian disusun dengan RAK pola faktorial 4x2, dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama dosis pupuk NPK (0, 30, 60, dan 90 90 g per tanaman) dan faktor kedua pupuk pelengkap alkalis (tanpa pupuk pelengkap alkalis dan pupuk pelengkap alkalis 2 g L<sup>-1</sup>). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk NPK 90 g per tanaman dan 60 g per tanaman baik dengan aplikasi pupuk pelengkap alkalis 2 g L<sup>-1</sup> maupun tanpa pupuk pelengkap alkalis menghasilkan panjang tanaman, jumlah bunga betina, jumlah cabang primer, diameter buah, dan bobot per buah lebih tinggi dibandingkan dengan dosis pupuk NPK 30 g per tanaman dan 0 g per tanaman baik dengan aplikasi pupuk pelengkap alkalis 2 g L<sup>-1 </sup>dan tanpa pupuk pelengkap alkalis. Bobot buah (1,99 kg) dan diameter buah (16,03 cm) terbesar dihasilkan oleh kombinasi perlakuan dosis NPK 90 g dan 2 g pupuk pelengkap alkalis.<span class="Apple-converted-space"> </span></p>2025-10-28T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agrotek Kulturahttps://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JAK/article/view/12248PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN DAN NUTRISI MEDIA TUMBUH IN VITRO TERHADAP PERTUMBUHAN Botryodiplodia theobromae PENYEBAB BUSUK PANGKAL BATANG JERUK KEPROK2025-12-26T12:56:59+00:00Ummu Afifahuafifah@gmail.comSuskandini Ratih Dirmawatisuskandini.ratih@fp.unila.ac.idYuyun Fitrianayuyun.fitriana@fp.unila.ac.idCipta Gintingcginting2001@yahoo.com<p>Busuk pangkal batang merupakan salah satu penyakit yang menyerang tanaman jeruk keprok, yang diakibatkan oleh jamur <em>Botryodiplodia theobromae. </em>Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh faktor lingkungan (cahaya, pH, dan suhu) terhadap pertumbuhan koloni <em>B. theobromae </em>secara <em>in vitro, </em>dan mengetahui pengaruh sumber nutrisi dari nitrogen (urea, amonium nitrat, dan pepton) dan karbon (laktosa dan sukrosa) terhadap pertumbuhan koloni <em>B. theobromae </em>secara <em>in vitro. </em>Isolat <em>B</em><em>. </em><em>theobromae</em> ditumbuhkan pada kondisi cahaya (terang dan gelap), pH (5, 7, dan 9), suhu (16<sup>o </sup>C, dan 27<sup>o </sup>C), sumber nutrisi nitrogen (pepton, amonium nitrat, dan urea), sumber nutrisi karbon (sukrosa dan laktosa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa koloni <em>B</em><em>.</em><em> theobromae</em> mengalami tekanan pertumbuhan di bawah cahaya terang, tetapi tumbuh dengan baik dalam kondisi gelap. Sementara itu, pada perlakuan pH koloni <em> B</em><em>. </em><em>theobromae </em>terhambat pertumbuhannya pada pH 9, namun tumbuh optimal pada kondisi pH 5. Pada perlakuan suhu, pertumbuhan koloni <em>B. theobromae </em>tertekan pada suhu 16<sup>o </sup>C, dan tumbuh baik pada suhu 27<sup> o </sup>C. Pada perlakuan sumber nutrisi nitrogen, pertumbuhan koloni <em>B. theobromae </em>tertekan pada sumber nutrisi nitrogen dari urea, dan tumbuh baik pada sumber nitrogen dari pepton. Pada perlakuan sumber nutrisi karbon, pertumbuhan koloni <em>B</em><em>.</em><em> theobromae</em> tertekan pada sumber nutrisi karbon dari laktosa.</p>2025-10-25T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agrotek Kulturahttps://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JAK/article/view/12250PENGARUH ASAM HUMAT DAN DOSIS PUPUK P TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KACANG HIJAU (Vigna radiata L.)2025-12-26T15:34:51+00:00Nadhia Virgin Hermawannhermawan@gmail.comKuswanta Futas Hidayatkuswanta.hidayat@fp.unila.ac.idAgus Karyantoagus.karyanto@fp.unila.ac.idNur Afni Afriantinur.afni@fp.unila.ac.id<p>Kacang hijau (<em>Vigna radiata</em> L.) merupakan salah satu komoditas pangan yang banyak mengandung protein dan energi bagi manusia. Kebutuhan kacang hijau senantiasa meningkat dari tahun ke tahun namun produksi dan produktivitasnya masih tergolong rendah. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman kacang hijau adalah melalui aplikasi bahan pembenah tanah yaitu asam humat dan penambahan pupuk fosfat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian asam humat, pupuk P, dan interaksinya terhadap pertumbuhan dan produksi kacang hijau. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Kedaton, Kota Bandar Lampung, pada bulan Oktober 2022-Januari 2023. Penelitian ini menggunakan rancangan perlakuan faktorial 2x5 dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 3 ulangan sebagai kelompok sehingga diperoleh 30 satuan percobaan. Faktor pertama adalah aplikasi asam humat dengan 2 taraf yaitu tanpa asam humat dan dengan asam humat pada dosis 30 kg ha<sup>-1</sup> (0,075 g/polibag). Faktor kedua adalah dosis pupuk TSP, terdiri dari 5 taraf yaitu 0, 50 kg, 100 kg, 150 kg, dan 200 kg TSP ha<sup>-1</sup>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan produksi kacang hijau tidak dipengaruhi oleh pemberian asam humat, pupuk P, dan interaksinya. Walaupun tidak berbeda nyata, secara kuantitas bobot biji kering per tanaman yang diberi asam humat lebih tinggi daripada yang tidak diberi. Bobot biji kering yang diberi asam humat 28,92 g per tanaman setara dengan 3.615 kg ha<sup>-1</sup>, bobot biji kering tanpa asam humat 28,24 g per tanaman setara dengan 3.530 kg ha<sup>-1</sup>; selisih 85 kg ha<sup>-1</sup>.</p>2025-10-25T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agrotek Kulturahttps://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JAK/article/view/12252PENGARUH KOMBINASI PUPUK NPK DENGAN POC KULIT NANAS DAN KULIT PISANG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KUALITAS BIBIT TANAMAN JAMBU BIJI ‘KRISTAL’2025-12-26T18:09:40+00:00RA. Diana Widyastutirdiana.widyastuti@fp.unila.ac.idRugayah Rugayahrugayah.1961@fp.unila.ac.idSoesiladi Esti Widodosestiwidodo@gmail.comAlvi Tri AnwariAlvianwari@gmail.com<p>Budidaya jambu biji ‘Kristal’ di Indonesia memiliki prospek yang baik, namun produksinya terkhusus di Lampung mengalami penurunan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mendorong peningkatan produksi buah jambu biji ‘Kristal’ ialah meningkatkan kualitas bibit dengan memenuhi kebutuhan unsur haranya. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh pemberian kombinasi pupuk NPK dengan POC kulit pisang dan kulit nanas terhadap pertumbuhan dan kualitas bibit tanaman jambu biji ‘Kristal’. Penelitian dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan 7 perlakuan tunggal, yaitu 100% NPK, 50% NPK + 50% POC Kulit Pisang, 50% NPK + 50% POC Kulit Nanas, 75% NPK + 25% POC Kulit Pisang, 75% NPK + 25% POC Kulit Nanas, 100% POC Kulit Pisang, dan 100% POC Kulit Nanas. Uji homogenitas ragam menggunakan Uji Bartlett dan uji aditivitas data menggunakan Uji Tukey. Data yang homogen dan aditif dianalisis menggunakan ANOVA. Apabila perlakuan signifikan, analisis dilanjutkan dengan Uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi pupuk NPK dengan POC kulit pisang dan kulit nanas hanya memberikan pengaruh nyata terhadap variabel luas daun dan tingkat kehijauan daun, sedangkan konsentrasi paling optimal ialah 50% NPK + 50% POC kulit pisang, karena memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan luas daun dan tingkat kehijauan daun, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan 50% NPK + 50% POC kulit nanas.</p>2025-10-25T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agrotek Kulturahttps://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JAK/article/view/12254RESPONS TANAMAN KACANG HIJAU (Vigna radiata L.) TERHADAP RESIDU BERBAGAI JENIS BIOCHAR TAHUN KEDUA DAN DOSIS PUPUK NPK DI TANAH ULTISOL2025-12-26T23:01:59+00:00Alwi Tri Anwarialwianwari@gmail.comMuhammad Nurdinwdnudin@gmail.comSri Yusnainisri.yusnaini@fp.unila.ac.idKuswanta Futas Hidayatkuswanta.hidayat@fp.unila.ac.id<p>Impor kacang hijau (<em>Vigna radiata</em> L.) di Indonesia masih tinggi karena produksi dalam negeri belum mencukupi kebutuhan. Salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas adalah melalui pengelolaan tanah dan pemupukan yang tepat guna mendukung pertumbuhan serta hasil tanaman secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh residu berbagai jenis biochar pada tahun kedua dan dosis pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil kacang hijau. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) secara faktorial 4 × 3 dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis residu biochar tahun kedua: tanpa biochar, biochar dari sekam padi, tongkol jagung, dan batang singkong. Faktor kedua adalah dosis pupuk NPK, terdiri atas: tanpa pupuk, setengah dosis anjuran, dan dosis penuh sesuai anjuran. Homogenitas varians diuji menggunakan Uji Bartlett dan aditivitas diuji dengan Uji Tukey. Data yang memenuhi asumsi dianalisis menggunakan ANOVA, dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa residu biochar tahun kedua dari berbagai bahan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan maupun hasil kacang hijau. Sebaliknya, aplikasi pupuk NPK memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, jumlah polong, bobot polong, bobot biji, serta bobot berangkasan basah dan kering. Tidak ditemukan interaksi antara jenis residu biochar tahun kedua dan dosis pupuk NPK terhadap parameter pertumbuhan dan hasil kacang hijau.</p>2025-10-25T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agrotek Kulturahttps://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JAK/article/view/12255PENGARUH TEKNIK KONSERVASI TANAH DAN PEMUPUKAN TERHADAP PRODUKSI SINGKONG (Manihot esculenta Crantz) DI LAHAN BERLERENG2025-12-27T00:38:00+00:00Juanda Dwi Yogojyogo@gmail.com Afandi Afandiaffandi.1966@fp.unila.ac.idKuswanta Futas Hidayatkuswanta.hidayat@fp.unila.ac.idSri Yusnainisri.yusnaini@fp.unila.ac.id<p>Provinsi Lampung dikenal sebagai salah satu daerah penghasil singkong terbesar di Indonesia serta memiliki potensi besar dalam memenuhi kebutuhan singkong nasional. Pada tahun 2020, produksi singkong di wilayah ini mencapai 2.650.289 ton, namun pada tahun 2021 mengalami penurunan menjadi 2.485.452 ton dengan luas areal tanam sekitar 489.573 ha. Penurunan produksi tersebut diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya yaitu adanya aliran permukaan dan proses erosi yang terjadi di lahan pertanaman. Penelitian ini dilaksanakan pada 31 Mei 2023 – 9 Maret 2024 di Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap Faktorial (2x2). Faktor pertama adalah konservasi tanah (guludan) dan faktor kedua pemupukan. Perlakuan tenik konservasi tanah terbagi menjadi G1: guludan searah lereng, G2: guludan memotong lereng. Perlakuan pemupukan terbagi menjadi P0: tanpa pemupukan, P: NPK Phonska 300 kg ha<sup>-1</sup> dan Urea 200 kg ha<sup>-1</sup>. Penerapan teknik konservasi tanah dalam penelitian ini tidak menimbulkan perbedaan nyata terhadap semua variabel yang diamati. Pada perlakuan pemupukan memperlihatkan hasil berbeda nyata pada taraf 5% terhadap variabel bobot umbi. Sedangkan pada variable jumlah umbi, diameter umbi, dan panjang umbi tidak berbeda nyata. Perlakuan teknik konservasi tanah dan pemupukan tidak memberikan interaksi pada seluruh variabel.</p>2025-10-25T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agrotek Kulturahttps://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JAK/article/view/12256PENGARUH METABOLIT SEKUNDER Trichoderma asperellum TERHADAP PENYAKIT BULAI PADA TANAMAN JAGUNG MANIS2025-12-27T01:22:15+00:00Joko Prasetyojoko.prasetyo@fp.unila.ac.idKuswanta Futas Hidayatkuswanta.hidayat@fp.unila.ac.idAgista Wanda Auliaaaulia@gmail.comTri Maryonotri.maryono@fp.unila.ac.id<p>Jagung manis (<em>Zea mays</em> s<em>accharata</em> Sturt L.) merupakan salah satu jenis jagung yang banyak dikonsumsi di Indonesia. Penyakit yang sering terjadi pada tanaman jagung adalah bulai (<em>downy mildew) </em>yang disebabkan oleh patogen <em>Peronosclerospora </em>spp. dan dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 100%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metabolit sekunder <em>Trichoderma</em> <em>asperelum</em> terhadap penyakit bulai. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung dan di Kelurahan Tanjung Senang Kecamatan Tanjung Senang, Kota Bandar Lampung dari bulan Agustus 2021 hingga Januari 2022. Penelitian ini dilaksanakan dengan menguji beberapa konsentrasi metabolit sekunder <em>T.</em> <em>asperelum</em> yaitu 0; 25; 50; 75; dan 100% dalam menekan penyakit bulai pada tanaman jagung manis. Perlakuan disusun menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 5 ulangan. Benih jagung manis direndam ke dalam metabolit sekunder <em>T.</em> <em>asperelum</em> dengan konsentrasi yang telah ditentukan, kemudian ditanam pada polybag berisi campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1. Setelah 8 hst (hari setelah tanam), dilakukan inokulasi penyakit bulai (<em>Peronosclerospora </em>spp<em>.</em>) pada tanaman jagung. Tanaman diamati untuk mengetahui masa inkubasi, keterjadian, dan keparahan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi metabolit sekunder <em>T.</em> <em>asperelum</em> berpengaruh tidak nyata terhadap perkembangan penyakit bulai.</p>2025-10-25T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Jurnal Agrotek Kultura