PENGARUH PERBEDAAN ARAS STARTER PADA FERMENTASI SABUT KELAPA TERHADAP KECERNAAN BAHAN PAKAN DAN PRODUKSI VOLATILE FATTY ACIDS SECARA IN VITRO

Authors

  • Aulia Rahman Faculty of Animal and Agricultural Science, University of Diponegoro
  • Sunarso Sunarso Faculty of Animal and Agricultural Science, University of Diponegoro
  • B.I.M. Tampoebolon Faculty of Animal and Agricultural Science, University of Diponegoro
  • L.K. Nuswantara Faculty of Animal and Agricultural Science, University of Diponegoro

DOI:

https://doi.org/10.23960/jipt.v8i2.p66-71
Abstract View: 963

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh aras starter pada fermentasi sabut kelapa terhadap Kecernaan Bahan Kering (KcBK), Kecernaan Bahan Organik (KcBO) dan Volatile Fatty Acids (VFA) dengan metode in vitro. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Percobaan terdiri dari 4 perlakuan aras starter yaitu T0 (fermentasi sabut kelapa + 0% starter), T1 (fermentasi sabut kelapa + 2% starter), T2 (fermentasi sabut kelapa + 4% starter), dan T3 (fermentasi sabut kelapa + 6% starter) dengan 5 ulangan tiap perlakuan dan lama fermentasi 10 hari. Hasil penelitian menunjukkan sabut kelapa yang difermentasi dengan aras starter sampai 6% dapat meningkatkan (P<0,05) KcBK dan KcBO tetapi berpengaruh tidak nyata pada VFA. Rata-rata nilai KcBK dan KcBO pada perlakuan T0, T1, T2 dan T3 berturut-turut adalah KcBK 28,08%; 30,71%; 34,27%; 35,78% dan KcBO 28,73%; 31,81%; 35,21%; 36,88%. Rata-rata nilai produksi VFA pada perlakuan T0, T1, T2 dan T3 berturut-turut adalah 130 mM, 125 mM, 118 mM dan 120 mM. Simpulan penelitian adalah pemberian aras starter mampu meningkatkan KcBK dan KcBO dan produksi VFA memiliki kecenderungan menurun serta pemberian aras starter optimal pada level 4%.

 

Kata kunci : Fermentasi, In vitro, Kecernaan, Sabut kelapa, Volatile fatty acid.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Anindita, H. A. 2010. Pengaruh Level Isolate Mikrobia dan Lama Fermentasi Pelepah Sawit terhadap Produksi Amonia dan Protein Ruminal secara In vitro. Skripsi. Fakultas Peternakan dan Pertanian. Universitas Diponegoro. Semarang.

Anindyawati, T. 2009. Prospek enzim dan limbah lignoselulosa untuk produksi bioetanol. J. Bio. Sci. 44(1): 49–56.

Badarina, I., D. Evvyernie, T. Taharmat, dan E. N. Herliyana. 2014. Fermentabilitas rumen dan kecernaan in-vitro ransum yang disuplementasi kulit buah kopi produk fermentasi jamur Pleurotus ostreatus. J. Sains Pet. Indo. 9(2): 102–109.

Bondra, M., A. P. Setiawan, dan P. F. Nilasari. 2018. Penelitian serabut kelapa sebagai material lantai ecofriendly dan biodegradable. J. Intra. 6 (2): 431–436.

Departement of Dairy Science. 1966. General Laboratory Procedures. University of Winconsin. Madinson.

Dewi, N. K., S. Mukodiningsih, dan C. I. Sutrisno. 2012. Pengaruh fermentasi kombinasi jerami padi dan jerami jagung dengan aras isi rumen kerbau terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik secara in-vitro. J. Anim. Agr. 1(2): 134–140.

Direktorat Jendral Perkebunan (Ditjenbun). 2016. Stastistik Perkebunan Indonesia 2015-2017. Direktorat Jendral Perkebunan. Jakarta.

Fathul, F. dan S. Wajizah. 2010. Penambahan mikromineral Mn dan Cu dalam ransum terhadap aktivitas biofermentasi rumen domba secara in vitro. JITV. 15(1): 9–15.

Fariani, A. dan S. Akhadiarto. 2009. Pengaruh perlakuan alkali pada limbah kulit kopi dan peningkatan kecernaan dengan teknik in vitro. J. Rek. Ling. 5(2): 85–93.

Irvani, M. I. 2011. Pengaruh Proteksi Tanin Ampas Teh pada Aras yang berbeda terhadap Gamal (Gliricidia sepium) ditinjau dari Fermentabilitas dan Kecernaan secara In vitro. Skripsi. Fakultas Peternakan dan Pertanian. Universitas Diponegoro. Semarang.

Lisan, F. R. 2015. Penentuan jenis tanin secara kualitatif dan penetapan kadar tanin dari serabut kelapa (Cocos nucifera L.) secara permanganometri. J. Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya. 4(1): 1–16.

McDonald, P., Edwards, R. A., Greehalgh, J. F. D. and Morgan, C. A. 2002. Animal Nutrition. 6th Ed. Ashford Color Pr. Gosport.

Muchlas, M., Kusmartono, dan Marjuki. 2014. Pengaruh penambahan daun pohon terhadap kadar VFA dan kecernaan secara in-vitro ransum berbasis ketela pohon. J. Ilmu Pet. 24 (2): 8–19.

Nurhajati, T. dan T. Suprapto. 2013. Penurunan serat kasar dan peningkatan protein kasar sabut kelapa (Coco nucifera Linn) secara amofer dengan bakteri selulolitik (Actinobacillus ML-08) dalam pemanfaatan limbah pasar sebagai sumber bahan pakan. J. Agrovet. 2(1): 1–11.

Oladayo, A. 2010. Proximate composition of some agricultural wastes in Nigeria and their potential use in activated carbon production. J. Appl. Sci. Environ. Manag. 14(1): 55–58.

Pratama, G. P. 2019. Produksi Amonia (NH3), Protein Mikroba dan protein Total pada Sabut Kelapa Fermentasi secara In vitro. Skripsi. Fakultas Peternakan dan Pertanian. Universitas Diponegoro. Semarang.

Pujowati, A., Sutrisno dan E. Pangestu. 2012. Kecernaan dan poduksi volatile fatty acids pakan komplit yang mengandung tepung kedelai dengan perlakuan pemanasan secara in vitro. J. Anim. Agr. 1(2): 151–156.

Rahayu, R. I., A. Subrata, dan J. Achmadi. 2018. Fermentabilitas ruminal in vitro pada pakan berbasis jerami padi amoniasi dengan suplementasi tepung bonggol pisang dan molasses. J. Pet. Indo. 20(3): 166–174.

Ramadhani, M. 2019. Kadar Serat Kasar, Protein Kasar dan Total Digestible Nutrients pada Sabut Kelapa (Cocos Nucifera) yang Difermentasi dengan Level Starter yang Berbeda. Skripsi. Fakultas Peternakan dan Pertanian. Universitas Diponegoro. Semarang.

Riswandi, Muhakka, dan M. Lehan. 2015. Evaluasi nilai kecernaan secara in vitro ransum ternak sapi bali yang disuplementasi dengan probiotik bioplus. J. Pet. Sriwijaya. 4 (1): 35–46.

Simbolon, N., R. I. Pujaningsih, dan S. Mukodiningsih. 2016. Pengaruh berbagai pengolahan kulit singkong terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik secara in vitro, protein kasar dan asam sianida. J. Ilmu Pet. 26(1): 58–65.

Soares, D., I. H. Djunaidi, dan M. H. Natsir. 2018. Pengaruh jenis inoculum Aspergilus niger, Saccharomyces cereviseae dan lama fermentasi terhadap komposisi nutrien ampas putak (Chorypha gebanga). J. Ilmu Pet. 28(1): 90–95

Sukarti, E., B. Sulistiyanto, dan S. Mukodiningsih. 2012. Kualitas serat limbah pertanian dan hasil samping pertanian yang difermentasi dengan Aspergilus niger pada aras dan lama pemeraman yang berbeda. J. Anim. Agr. 1(2): 77–85.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Edisi ke 6. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Widodo, F. Wahyono, dan Sutrisno. 2012. Kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, produksi VFA dan NH3 pakan komplit dengan level jerami padi berbeda secara in vitro. J. Indo. Food Tech. 1(1): 1–15.

Downloads

Published

2020-07-31

How to Cite

Rahman, A., Sunarso, S., Tampoebolon, B., & Nuswantara, L. (2020). PENGARUH PERBEDAAN ARAS STARTER PADA FERMENTASI SABUT KELAPA TERHADAP KECERNAAN BAHAN PAKAN DAN PRODUKSI VOLATILE FATTY ACIDS SECARA IN VITRO. JURNAL ILMIAH PETERNAKAN TERPADU, 8(2), 66–71. https://doi.org/10.23960/jipt.v8i2.p66-71

Issue

Section

Articles