Aquasains: Jurnal Ilmu Perikanan dan Sumberdaya Perairan
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP
<div id="aquasains-about-container" style="font-family: 'Segoe UI', Tahoma, Geneva, Verdana, sans-serif; color: #333; max-width: 1100px; margin: auto; background: #fff; padding: 30px; border-radius: 16px; border: 1px solid #e2e8f0; box-shadow: 0 10px 25px rgba(0,0,0,0.05);"> <div style="display: flex; flex-wrap: wrap; gap: 30px; border-bottom: 5px solid #fbbf24; padding-bottom: 30px; margin-bottom: 40px; align-items: flex-start;"> <div style="flex: 0 0 240px; margin: auto;"><img style="width: 100%; border-radius: 12px; box-shadow: 0 12px 20px rgba(6, 78, 59, 0.2);" src="https://jurnal.fp.unila.ac.id/public/journals/9/cover_issue_508_en_US.jpg" alt="Aquasains Cover" /></div> <div style="flex: 1; min-width: 320px;"> <div style="display: inline-block; background: #ecfdf5; color: #064e3b; padding: 5px 15px; border-radius: 50px; font-size: 13px; font-weight: 800; border: 1px solid #064E3B; margin-bottom: 15px; letter-spacing: 1px;">SCIENTIFIC COMMUNICATION JOURNAL</div> <h1 style="color: #064e3b; margin: 0 0 10px 0; font-size: 28px; font-weight: 800; line-height: 1.2;">Aquasains: Jurnal Ilmu Perikanan dan Sumberdaya Perairan</h1> <p style="font-size: 14px; color: #64748b; margin-bottom: 15px; font-weight: 600;">p-ISSN: 2301-816X | e-ISSN: 2579-7638</p> <p style="text-align: justify; margin: 0 0 20px 0; font-size: 15px; line-height: 1.7;"><strong>Aquasains</strong> is a periodical journal that serves as a means of scientific communication to disseminate research results. Areas of study include the exploration and management of aquatic and marine resources.</p> <div style="display: flex; gap: 15px; align-items: center;"><a href="https://sinta.kemdikbud.go.id/journals/profile/2302" target="_blank" rel="noopener"> <img style="border-radius: 4px; border: 1px solid #eee;" src="https://jurnal.fp.unila.ac.id/public/site/images/heroe/sinta5ff.jpg" alt="Sinta Logo" height="60" /> </a></div> </div> </div> <div style="text-align: center; margin-bottom: 50px; background: #f0fdf4; padding: 25px; border-radius: 12px; border: 1px solid #dcfce7;"> <h3 style="color: #064e3b; margin-top: 0; font-size: 18px;">Submission & Participation</h3> <p style="font-size: 14px; margin-bottom: 15px;">We strongly prefer to receive manuscripts via our online submission system.</p> <a class="aqua-action-btn" href="https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/login/signIn">LOGIN</a> <a class="aqua-action-btn" style="background: #fbbf24; color: #333;" href="https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/user/register">REGISTRATION</a> <div style="margin-top: 20px; border-top: 1px solid #bdf2d5; pt: 15px;"><a class="aqua-nav-btn" href="#focus">Focus & Scope</a> <a class="aqua-nav-btn" href="#review">Peer Review</a> <a class="aqua-nav-btn" href="#ethics">Publication Ethics</a> <a class="aqua-nav-btn" href="#contact">Contact Address</a></div> </div> <div id="focus" style="margin-bottom: 50px; scroll-margin-top: 20px;"> <h2 style="color: #064e3b; border-left: 6px solid #fbbf24; padding-left: 15px; font-size: 24px; text-transform: uppercase;">Focus and Scope</h2> <div style="background: #f8fafc; padding: 25px; border-radius: 12px; margin-top: 20px; border: 1px solid #eef2f6;"> <p style="text-align: justify; line-height: 1.8;">Aquasains serves as a means of scientific communication for the exploration and management of aquatic and marine resources. The editorial board may abbreviate or refine the manuscript without altering intent. <strong>Frequency:</strong> Published twice a year (<strong>March and November</strong>), or previously January-June and July-December editions.</p> </div> </div> </div>en-US[email protected] (Eko Efendi)[email protected] (Redaktur)Mon, 17 Nov 2025 00:00:00 +0000OJS 3.2.1.2http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss60Pemetaan Komoditas Ekspor dan Impor Krustasea Tahun 2023-2025 Berdasarkan Data Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan Banten
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/13129
<p>Perdagangan krustasea merupakan salah satu aktivitas perikanan yang melibatkan lalu lintas komoditas antarnegara. Penelitian ini bertujuan menganalisis volume dan memetakan distribusi krustasea ekspor dan impor melalui BKHIT Banten selama 2023–2025. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data sekunder yang dianalisis berdasarkan jenis, volume, negara asal, dan negara tujuan. Pemetaan dilakukan menggunakan ArcMap 10.8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspor terdiri atas <em>Panulirus </em>sp., <em>Portunus pelagicus</em>, <em>Scylla serrata</em>, dan <em>Squilla mantis</em>, sedangkan impor terdiri atas <em>Chionoecetes opilio </em>dan <em>Homarus americanus</em>. Volume ekspor Panulirus homarus meningkat 71,39%, sedangkan <em>Portunus pelagicus </em>menurun 51,76%. Volume impor <em>Homarus americanus </em>dan <em>Chionoecetes opilio </em>masing-masing menurun 84,79% dan 78,80%. Pemetaan menunjukkan distribusi ekspor lebih luas dibandingkan impor, dengan Cina dan negara Asia lainnya sebagai tujuan utama, sedangkan impor berasal dari Jepang, Kanada, dan Amerika Serikat.</p>Zalsa Riski Stefani
Copyright (c)
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/13129Pemetaan Moluska Komoditas Ekspor Dan Impor Berdasarkan Data Balai Karantina Hewan Ikan Dan Tumbuhan Banten Tahun 2023-2025
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/13130
<p>Moluska merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi yang diperdagangkan melalui ekspor dan impor. Penelitian ini bertujuan menganalisis jenis dan volume serta memetakan persebaran komoditas moluska melalui BKHIT Banten selama 2023–2025. Data sekunder berupa catatan lalu lintas moluska dianalisis berdasarkan jenis, kelas, volume, negara tujuan ekspor, dan negara asal impor menggunakan ArcGIS 10.8. Hasil menunjukkan terdapat 25 jenis ekspor dan 14 jenis impor. Ekspor didominasi <em>Babylonia spirata</em> dan <em>Anadara granosa</em>, sedangkan impor didominasi <em>Crassostrea gigas</em>. Volume ekspor menurun dari 9.293.033 individu pada 2023 menjadi 6.689.186 individu pada 2024 dan 1.019.840 individu pada 2025. Volume impor berfluktuasi dari 130,64 ton menjadi 224,27 ton dan 99,72 ton. China dan Korea Selatan merupakan negara tujuan ekspor dengan volume terbesar, sedangkan Jepang dan Korea Selatan merupakan negara asal impor terbesar. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan komposisi jenis, volume, dan persebaran perdagangan moluska selama 2023–2025.</p>Lia Aryanti, Moh Muhaemin, Atik Lestantun, M. Ghufron Purnama
Copyright (c)
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/13130Pemetaan Distribusi Volume Impor Ikan Demersal dan Pelagis di Bandar Udara Soekarno-Hatta Berdasarkan Data Badan Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Banten Tahun 2023–2025
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/13052
<p>Impor komoditas ikan berperan penting dalam memenuhi kebutuhan konsumsi dan industri perikanan nasional sehingga informasi mengenai karakteristik volume impor dan distribusi negara asal diperlukan sebagai dasar pengawasan lalu lintas komoditas perikanan. Penelitian bertujuan mengidentifikasi karakteristik volume impor ikan demersal dan pelagis serta memetakan distribusi negara asal berdasarkan data Badan Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Banten Satuan Pelayanan Bandar Udara Soekarno-Hatta periode 2023–2025. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) berdasarkan data sekunder berupa jenis ikan, volume impor, negara asal, dan waktu pemasukan komoditas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paralichthys olivaceus merupakan komoditas ikan demersal dengan volume impor tertinggi, mencapai 80,76 ton pada tahun 2024, sedangkan Salmo salar mendominasi kelompok ikan pelagis dengan volume impor mencapai 2.718,01 ton pada tahun 2025. Distribusi impor ikan demersal berasal dari 2–3 negara dengan Jepang sebagai pemasok utama, sedangkan impor ikan pelagis berasal dari 4–5 negara dengan Australia sebagai pemasok utama. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa perubahan distribusi impor terjadi pada jumlah dan komposisi negara pemasok, namun pusat volume impor tetap terkonsentrasi pada negara yang sama selama periode penelitian. Penelitian memberikan informasi spasial mengenai pola distribusi impor ikan yang dapat mendukung pengawasan dan pengambilan kebijakan di bidang perkarantinaan ikan.</p>Harnum Nirmala Sari, Moh. Muhaemin, Kartika Eka Wardhani
Copyright (c)
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/13052Struktur Komunitas dan Kesehatan Padang Lamun di Perairan Pulau Kongsi Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/12976
<p>Padang lamun merupakan ekosistem pesisir yang penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan laut. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur komunitas lamun, kualitas perairan, status kesehatan padang lamun, serta hubungan antara parameter kualitas perairan dengan kelimpahan lamun di Perairan Pulau Kongsi, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Februari 2026 menggunakan metode <em>purposive sampling</em> pada tiga stasiun pengamatan. Pengamatan meliputi identifikasi jenis lamun, kerapatan, persentase penutupan, pengukuran parameter kualitas perairan, serta analisis hubungan antarvariabel menggunakan <em>Principal Component Analysis</em> (PCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas lamun tersusun atas dua spesies, yaitu <em>Enhalus acoroides</em> dan <em>Thalassia hemprichii</em>. Nilai kerapatan <em>Enhalus acoroides</em> berkisar 3–77 ind/m², sedangkan <em>Thalassia hemprichii</em> berkisar 238–420 ind/m². Persentase penutupan total lamun berkisar 31,14–64,78%, dengan kondisi padang lamun pada stasiun 1 dan 2 tergolong kurang kaya, sedangkan stasiun 3 tergolong kaya. Kondisi kualitas perairan secara umum masih mendukung pertumbuhan lamun, yang ditunjukkan oleh kisaran suhu 29–31°C, salinitas 29,1–30,1 ppt, pH 6,98–7,57, oksigen terlarut 6,04–8,30 mg/L, kecepatan arus 0,018–0,025 m/s, kedalaman 0,08–0,60 m, dan kecerahan 100%. Sementara itu, konsentrasi nitrat 0,379–0,620 mg/L dan ortofosfat 0,055–0,080 mg/L terukur melebihi baku mutu kualitas air laut. Berdasarkan persentase penutupan, padang lamun di Perairan Pulau Kongsi termasuk dalam kategori kurang sehat. Analisis PCA menunjukkan bahwa komponen utama pertama (PC1) menjelaskan 55,10% variasi data, sedangkan komponen utama kedua (PC2) menjelaskan 23,79%, sehingga total keragaman data yang dapat dijelaskan mencapai 78,89%. Analisis PCA menunjukkan bahwa suhu, salinitas, kedalaman, kecepatan arus, oksigen terlarut, merupakan parameter yang paling berpengaruh terhadap variasi kelimpahan lamun.</p>syariah nurshina, Rara Diantari, Darma Yuliana, Putu Cinthia Delis
Copyright (c)
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/12976Struktur Komunitas Makrozoobentos Di Perairan Pulau Kongsi, Pulau Pari, Dan Pulau Burung, Kepulauan Seribu, Jakarta
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/12973
<p>Perairan Kepulauan Seribu, terutaman Pulau Kongsi, Pulau Pari dan Pulau Burung mengalamai tekanan lingkunga akibat aktivitas antropogenik seperti pariwisata, limbah domestik, dan kontruksi yang dimungkinkan dapat mempengaruhi struktur komunitas makrozoobentos. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas makrozoobentos dan menganalisis hubungan struktur komunitas makrozoobentos dengan parameter kualitas air di setiap pulau tersebut. Penelittian ini dilakukan pada bulan Januari-Februari 2026 menggunakan metode <em>purposive sampling. </em>Pengambilan sampel makrozoobentos dilakukan dengan transek berukuran 1 m x 1 m dengan menggunakan alat bantu sekop pada kedalaman 0-30 cm sebanyak 2 kali periode pengambilan. Parameter kualitas air yang diukur meliputi suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, <em>total organic matter </em>(TOM) dan tipe substrat. Data di analisis menggunakan indeks ekologi, kurva ABC (<em>Abundance and Biomass Comparison</em>), PCA (<em>Parincipal Component Analysis</em>), dan analisis spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air di setiap lokasi penelitian masih dalam baku mutu biota laut. berdasarkan hasil pengamatan ditemukan beberapa jenis Gastropoda dan Bivalvia yang mendominasi lokasi penelitian. Hasil perhitungan nilai indeks keanekaragaman tergolong sedang, keseragaman tergolong tinggi, dan dominasi tergolong rendah. Hasil kurva ABC dari ketiga pulau menunjukan bahwa kondisi lingkungan makrozoobentos yang relatif stabil tidak mengalami tekanan tinggi Hasil analisis PCA dan korelasi spearman menunjukkan bahwa salinitas, suhu, DO, tipe susbstrat, dan TOM memiliki hubungan terhadap struktur komunitas makrozoobentos pada masing-masing pulau. Kesimpulannya komunitas makrozoobentos didominasi kelas Gastropoda dan Bivalvia, dengan Asteroidea, Echinoidea, Holothuroidea, serta Crustacea, yang ditemukan pada lokasi penelitian. Parameter kualitas perairan, terutama salinitas, suhu, DO, TOM, dan substrat, berpengaruh terhadap struktur komunitas makrozoobentos.</p>Al Muhafit Fauzi, Herman Yulianto, Darma Yuliana, Henni Wijayanti Maharani
Copyright (c)
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/12973Karakteristik Kerusakan Vegetasi Mangrove Berdasarkan Luas Dan Intensitas Serangan Di Pulau Pahawang, Kabupaten Pesawaran
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/12965
<p>Ekosistem mangrove di Pulau Pahawang menghadapi tekanan biotik, abiotik, dan antropogenik yang berpotensi menurunkan kesehatan vegetasi. Namun, kajian mengenai kerusakan organ berbasis luas dan intensitas serangan di Pulau Pahawang masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik kerusakan organ mangrove, luas dan intensitas serangan, serta faktor penyebab kerusakan. Pengambilan data dilakukan dengan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei lapangan. Pengamatan dilakukan pada 23 plot di tiga stasiun yang mewakili kerapatan mangrove jarang (<em>R. mucronata</em>), sedang (<em>R. mucronata</em>), dan lebat (<em>R. apiculata</em>). Parameter yang dianalisis meliputi jenis kerusakan, persentase kerusakan organ, luas serangan, dan intensitas serangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 10 jenis kerusakan yang teridentifikasi pada organ daun, batang, dan cabang. Rata-rata luas serangan pada seluruh stasiun masuk dalam kategori sangat berat, yaitu 92,69%. Meskipun luas serangan tergolong sangat berat pada seluruh stasiun, intensitas kerusakan individu masih berada pada kategori ringan–sedang, dengan nilai tertinggi terjadi pada organ batang fase pohon (46,45%). Hal ini menunjukkan peluang pemulihan vegetasi masih terbuka. Kerusakan dipengaruhi oleh kombinasi faktor biotik (serangga defoliator, <em>Littoraria</em> sp., rayap, dan jamur patogen), abiotik (salinitas, fluktuasi suhu, dan hempasan gelombang), serta antropogenik berupa sampah dan aktivitas wisata maupun permukiman. Hasil penelitian ini menunjukkan perlunya pengelolaan gangguan biotik dan tekanan antropogenik untuk mendukung pemulihan kesehatan ekosistem mangrove di Pulau Pahawang.</p>Bela Apriandini, Machya Kartika Tsani, Inggar Damayanti, Indriyanto Indriyanto
Copyright (c)
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/12965Variabilitas Sumber Polisakarida Jenis Rumput Laut Berbeda: Tinjauan Terhadap Sifat Barier Fisik dan Mekanisme Kemasan Biodegradable
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/12822
<p>Variabilitas sumber polisakarida dari berbagai jenis rumput laut berperan penting dalam menentukan sifat barier fisik dan mekanisme pembentukan kemasan biodegradable. Polisakarida seperti karagenan dari <em>Eucheuma cottonii</em>, agar dari <em>Gracilaria sp.</em>, alginat dari <em>Sargassum sp.</em>, dan ulvan dari <em>Ulva lactuca</em> memiliki struktur molekul, gugus fungsional, dan tingkat kristalinitas berbeda, sehingga memengaruhi kekuatan mekanik, permeabilitas uap air, dan kemampuan menahan gas. Penambahan aditif seperti gliserol, kitosan, atau serat selulosa nano dapat meningkatkan fleksibilitas, ketahanan mekanik, dan stabilitas barrier film. Kombinasi polisakarida dari berbagai sumber memperkuat struktur polimer, menjaga integritas film, dan mempercepat biodegradasi, menjadikannya alternatif kemasan ramah lingkungan yang efektif. Kajian ini menekankan pentingnya pemilihan jenis rumput laut, komposisi polisakarida, dan formulasi aditif dalam menghasilkan kemasan biodegradable yang optimal, berkelanjutan, dan mampu mengurangi ketergantungan pada plastik konvensional.</p>Ibnul123 amin
Copyright (c)
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/12822ANALYSIS OF FOOD CONVERSION RATIO (FCR) OF NILE TILAPIA (Oreochromis niloticus) IN FLOATING NET CAGES AT LAKE BATUR
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/12584
<p><strong>ABSTRACT</strong> <em>Nile tilapia (Oreochromis niloticus) aquaculture in Lake Batur has significant potential, yet farmers frequently encounter extreme fluctuations in feed efficiency. This study aimed to evaluate production performance profiles—particularly the Food Conversion Ratio (FCR) and Survival Rate (SR)—across various zones of the lake while identifying the underlying technical and biological determinant factors. Data were collected from 20 farmers distributed across the West, East, North, and South regions using a descriptive quantitative (ex-post facto) method. The One-Way ANOVA test revealed a significant difference in FCR values (p < 0.05) among the locations. The West region exhibited the highest efficiency, achieving an FCR of 1.06 ± 0.18 and a survival rate of 66%, whereas the East region showed the lowest efficiency with an FCR of 1.39 ± 0.03. Interestingly, multiple linear regression analysis demonstrated that a longer rearing period significantly improved feed efficiency (p=0.010). This improvement is attributed to a natural food "subsidy" from </em></p> <p><em>periphyton colonizing the nets during extended cultivation cycles. Conversely, the poor efficiency in the East region was predominantly driven by the phantom feeding phenomenon. Fish transported from distant areas experienced severe transport stress, leading to high early mortality rates even after consuming commercial pellets. To mitigate these issues, it is recommended that farmers implement strict acclimatization protocols or prioritize the use of local seeds (fingerlings) to minimize stress. Furthermore, maximizing natural food utilization and applying periodic starvation serve as highly effective strategies to stimulate compensatory growth while significantly reducing feed costs.<br><br><br></em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p><strong> </strong></p> <p>Ikan nila (<em>Oreochromis niloticus</em>) merupakan komoditas unggulan di Danau Batur, namun keberlanjutan produksinya terkendala oleh fluktuasi efisiensi pakan yang ekstrem antar pembudidaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil kinerja produksi (FCR dan SR) secara spasial serta mengidentifikasi faktor manajemen teknis dan biologis yang mempengaruhinya. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan <em>ex-post facto</em> terhadap 20 pembudidaya di empat lokasi (Barat, Timur, Utara, Selatan). Hasil uji <em>One-Way </em>ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan (p < 0,05) pada nilai FCR antar lokasi. Lokasi Barat mencatatkan efisiensi terbaik dengan FCR 1,06 ± 0,18 dan <em>Survival Rate</em> 66%, sedangkan lokasi Timur terendah dengan FCR 1,39 ± 0,03. Analisis regresi linear berganda mengungkap bahwa durasi pemeliharaan berpengaruh nyata (p=0,010) terhadap efisiensi pakan, mengindikasikan adanya mekanisme subsidi pakan alami berupa perifiton pada siklus panjang. Sebaliknya, inefisiensi di lokasi Timur teridentifikasi akibat fenomena <em>phantom feeding</em> yang dipicu oleh tingginya mortalitas awal pasca-transportasi benih jarak jauh. Berdasarkan temuan tersebut, strategi perbaikan yang direkomendasikan meliputi mitigasi stres transportasi melalui protokol aklimatisasi ketat atau penggunaan benih lokal; optimalisasi subsidi pakan alami pada jaring; serta penerapan puasa berkala guna memicu pertumbuhan kompensatori dan efisiensi pakan.</p>Kadek Yogi Anugerah Prawira Darma, Dr. Gede Iwan Setiabudi, S.Pd., M.Si., Alexander Korinus Marantika
Copyright (c)
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/12584Pendugaan stok ikan tenggiri (Scomberomorus commerson) yang didaratkan di pelabuhan perikanan provinsi kalimantan barat
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/12322
<p><em>This study aims to estimate the stock of Narrow-barred Spanish Mackerel (Scomberomorus commerson) landed at the Fisheries Port of West Kalimantan Province. We used secondary data at 2015 to 2024 for gillnet fishing fleet. The collected data were Catches and fishing trips. We used the Catch Per Unit Effort (CPUE), the Schaefer Surplus Production Model, and Exploitation Rate Analysis. The result showed a CPUE values fluctuated between 432 and 729 kg/trip, with the highest recorded at 2022 and the lowest at 2023. The Maximum Sustainable Yield (MSY) in 1,335,956 Kg per year. The exploitation rate during the observation period was below 80% of the MSY value, classifying in Underfishing Level. These findings indicate that the stock of S. commerson in West Kalimantan Waters remains relatively healthy and not optimally utilized yet.</em></p>Dwiro Yoel
Copyright (c)
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/12322ANALISIS ANTIBAKTERI MENGGUNAKAN METODE CAKRAM DAN UJI TOKSISITAS BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) DARI EKSTRAK JAMUR SIMBION SPONS
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/12307
<p>Bacterial resistance to antibiotics has increased the demand for new antibacterial agents from natural sources, including marine organisms. This study evaluated the antibacterial activity and toxicity of sponge-associated fungal extracts. Antibacterial activity against <em>Escherichia coli</em> was tested using the disc diffusion method, while toxicity was assessed using the Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). The extract was obtained by maceration with 95% methanol and tested at various concentrations. The extract showed antibacterial activity, with the largest inhibition zones at 100 and 1,000 ppm after 24 hours, which decreased after 48 hours. BSLT results showed 100% mortality of <em>Artemia salina</em> larvae at concentrations ≥100 ppm. The main BSLT test revealed a dose–response relationship, with higher doses and longer exposure reducing larval survival. These results indicate that sponge-associated fungal extracts are promising antibacterial agents, although their toxicity requires further evaluation.</p>David Febriansyah David
Copyright (c)
https://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JPBP/article/view/12307